Satu-satunya tanda zodiak yang bukan makhluk hidup, dan satu-satunya yang dibuat dengan memotong bagian tubuh tanda tetangganya. Nama bintangnya masih menyebut dirinya capit.
Angka di atas milik rasi bintang Libra, wilayah langit dengan batas resmi IAU. Tanda zodiak Libra adalah potongan 30 derajat dari lingkaran ekliptika yang diikat ke musim. Dua hal itu tidak berimpit, dan penjelasannya ada di halaman utama zodiak.
Tiga bintang utama Libra menyimpan nama yang tidak cocok dengan gambar timbangan. Alfa Librae bernama Zubenelgenubi, yang artinya “capit selatan”. Beta Librae bernama Zubeneschamali, “capit utara”. Gamma Librae bernama Zubenelakrab, yang artinya “capit kalajengking”.
Tiga nama itu berasal dari zubānā dalam bahasa Arab, yang berarti capit kalajengking. Bintang-bintang di rasi ini pernah dihitung sebagai bagian dari Scorpius, dan namanya tidak pernah diperbarui setelah wilayahnya dipisah.
Beta Librae, yang paling terang di rasi ini pada magnitudo 2,61, kadang dilaporkan berwarna kehijauan. Rasi ini sendiri cukup redup, tanpa satu pun bintang bermagnitudo satu, dengan luas 538 derajat persegi di peringkat ke-29.
Wikipedia mencatat sesuatu yang tidak pernah muncul di daftar zodiak berbahasa Indonesia: Libra tidak disebut oleh Eudoxus maupun Aratus sebagai rasi. Aratus justru berkali-kali menyebut wilayah itu sebagai Capit, dan penyebutan itulah yang membuat namanya menyebar di masa Helenistik. Kutipan yang dipakai berbunyi bahwa Capit hanya punya sedikit bintang mencolok, dan cahaya redupnya hilang di antara permata yang lebih terang.
Libra baru muncul sebagai rasi di masa Romawi, ketika bintang-bintang itu mulai mewakili timbangan yang dipegang Astraea, dewi keadilan yang dalam mitologi Yunani dikaitkan dengan Virgo. Manetho pada abad ke-3 SM dan Geminus pada abad ke-1 SM sudah menyebutnya, lalu Ptolemaeus memasukkannya ke dalam 48 asterismenya dan mencatat 17 bintang di dalamnya. Tycho Brahe mencatat 10, Johannes Hevelius mencatat 20.
Di Babilonia rasi ini sudah dikenal sebagai MUL Zibanu, timbangan, dan sekaligus dikenal sebagai Capit Kalajengking. Timbangannya dianggap suci bagi dewa matahari Shamash, yang juga pelindung kebenaran dan keadilan. Kaitan Libra dengan hukum dan keadilan sudah berumur sejauh itu.
Jadi urutan sejarahnya begini. Timbangan lebih dulu ada di Babilonia, sempat dibaca sebagai capit di dunia Yunani, lalu dikembalikan jadi timbangan oleh orang Romawi. Yang berpindah bukan bintangnya, tapi cara membacanya, dan pergantian itu berlangsung dua arah.
Ada dugaan lama bahwa gambar timbangan dipilih karena saat Matahari memasuki bagian ekliptika ini pada ekuinoks musim gugur, panjang siang dan malam sama, seperti dua sisi timbangan yang seimbang.
Karena letaknya di ekuinoks itulah titiknya dinamai First Point of Libra. Wikipedia mencatat titik tersebut berhenti berimpit dengan rasi Libra pada 730 SM akibat presesi ekuinoks. Nama itu masih dipakai di astronomi sampai hari ini, sama seperti First Point of Aries yang sudah pindah ke Pisces.
Dua titik acuan utama sistem koordinat langit, karena itu, sama-sama menyandang nama rasi yang tidak lagi menampungnya. Kalau ada satu fakta yang menjelaskan kenapa tanggal zodiak tidak bisa dipakai untuk menebak posisi bintang, ini fakta itu.
Dari dua belas tanda, sebelas berupa makhluk hidup atau sosok manusia: domba, banteng, si kembar, kepiting, singa, perempuan, kalajengking, pemanah, kambing laut, pembawa air, dan dua ikan. Libra sendirian sebagai benda, yaitu timbangan.
Liputan6 menyebut hal yang sama dalam uraiannya, bahwa Libra dilambangkan timbangan dan itu satu-satunya simbol benda mati dalam zodiak.
Tabel Liputan6 menempatkan Libra pada elemen Udara, modalitas Kardinal, dengan Venus sebagai penguasa. Venus memegang Libra dan Taurus, dua tanda dengan elemen berbeda.
Libra juga salah satu dari empat tanda Kardinal, yang menandai pembukaan musim di belahan utara. Untuk Libra, musim yang dibuka adalah gugur.
Daftar di bawah berisi dua tanda lain yang berbagi elemen yang sama dengan Libra, yaitu Udara. Tiga tanda satu elemen berjarak 120 derajat satu sama lain di lingkaran zodiak, dan aspek itu disebut trine. Aturan inilah satu-satunya dasar daftar ini.
Kami tidak menemukan sumber yang menetapkan daftar kecocokan zodiak yang baku. Yang ada adalah aturan geometri aspek, dan penerapannya berbeda antar penulis. Halaman ini menampilkan trine satu elemen karena itu yang bisa diterangkan asalnya, dan bukan karena pasangan lain dianggap tidak cocok.
Karena bintang-bintang itu dulu dihitung sebagai capit Scorpius. Zubenelgenubi berarti capit selatan, Zubeneschamali berarti capit utara, dan Zubenelakrab berarti capit kalajengking. Namanya tidak pernah diganti setelah wilayahnya dipisah.
Sebagai rasi tersendiri, ya. Eudoxus dan Aratus tidak menyebutnya sebagai rasi, dan statusnya sebagai rasi baru dibakukan di masa Yunani akhir atau Romawi. Timbangannya sendiri sudah dikenal lebih dulu di Babilonia dengan nama MUL Zibanu.
Kaitan itu sudah ada di Babilonia, ketika timbangannya dianggap suci bagi Shamash, dewa matahari yang juga pelindung kebenaran dan keadilan. Versi Romawinya memberikan timbangan itu kepada Astraea, dewi keadilan.
Libra punya bahan paling padat di antara dua belas halaman ini, karena sejarah pembentukannya tercatat rapi dan nama bintangnya menyimpan bukti langsung. Bagian yang tetap tidak bisa kami sumberkan adalah kaitan antara watak diplomatis dan sejarah rasinya, jadi kaitan itu tidak kami buat.
Watak zodiak tidak punya daftar resmi. Bunyinya berbeda antar sumber dan antar penulis, dan halaman ini menyajikannya sebagai warisan budaya, bukan sebagai keterangan yang benar tentang diri seseorang. Halaman ini tidak memuat ramalan kejadian, tidak memuat angka keberuntungan, dan tidak bisa dipakai untuk memperkirakan hasil undian.